
Refleksi: Pelajaran Berharga untuk Krisis Biaya Pendidikan di Indonesia
Melihat kesuksesan KPMB di Malaysia, kita tidak bisa tidak melirik tantangan serupa yang dihadapi di Indonesia. Saat ini, pendidikan tinggi di Indonesia sedang dibayangi oleh isu UKT (Uang Kuliah Tunggal) yang terus meroket, hingga fenomena viral “Pinjol Pendidikan” yang menjerat mahasiswa dengan bunga tinggi.
Di Indonesia, mahasiswa seringkali terjebak dalam dilema:
- Beasiswa Terbatas: Persaingan beasiswa pemerintah (seperti KIP Kuliah) sangat ketat.
- Kredit Pendidikan Bank yang Kaku: Pinjaman bank untuk pendidikan di Indonesia seringkali memerlukan agunan dan bunga komersial yang memberatkan.
- Bahaya Pinjol: Kurangnya solusi dana darurat pendidikan membuat banyak keluarga terjerumus ke pinjaman online ilegal yang mencekik.
Baca Juga : Pilih Mana: Asuransi Pendidikan atau Tabungan Biasa? (Jaminan Dana Kuliah)
Koperasi Pendidikan seperti model KPMB di Malaysia sebenarnya bisa menjadi solusi “Oasis” bagi Indonesia. Bayangkan jika koperasi guru atau dosen di Indonesia mengadopsi sistem Pinjaman Tanpa Faedah yang didanai oleh modal gotong royong anggota. Ini bukan sekadar tentang meminjam uang, tapi tentang prinsip Ekonomi Pancasila yang nyata—di mana anggota saling membantu untuk memastikan tidak ada anak bangsa yang putus sekolah karena kendala biaya.
