Begini Cara Hitung Kebutuhan Biaya Pendidikan Anak Sampai Kuliah – Bagaimana cara menghitung kebutuhan dana pendidikan anak? Pendidikan merupakan investasi terpenting yang dapat kita berikan kepada buah hati. Setiap orangtua sudah barang tentu ingin agar anak-anaknya mendapatkan akses pendidikan terbaik, mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga jenjang perguruan tinggi.
Namun, mewujudkan visi ini bukanlah hal yang mudah. Perlu perencanaan keuangan yang matang dan perhitungan yang cermat mengingat biaya pendidikan di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya.
Orangtua juga perlu menghadapi “masalah tersembunyi” dalam dunia finansial, yaitu angka inflasi yang terus bergerak naik. Nah di kesempatan ini, kami akan memberikan gambaran tutorial perhitungan biaya pendidikan anak hingga universitas dengan memperhatikan masalah tersembunyi tersebut.

Kiat dan Cara Menghitung Dana Pendidikan Anak dengan Pertimbangan Inflasi
Perhitungan kebutuhan dana pendidikan harus menggunakan prinsip Nilai Masa Depan atau Future Value (FV). Nilai ini bisa memberikan gambaran berapa biaya pendidikan di masa yang akan datang mengikuti laju inflasi yang diproyeksikan. Merujuk pada Investopedia ada beberapa langkah menghitung dana pendidika yang dapat dilakukan:
1. Tentukan Biaya Saat ini dan Rentang Waktu
Pertama, cek Nilai Saat Ini (Present Value, PV), berupa uang pangkal hingga SPP yang berlaku sekarang di sekolah atau kampus target. Sebagai contoh, untuk perhitungan uang pangkal sekolah swasta berkualitas, dibutuhkan dana Rp20 juta untuk SD, Rp30 juta untuk SMP, dan Rp40 juta untuk SMA. Sementara itu, biaya masuk perguruan tinggi (S1) berkisar antara Rp 7.000.000 hingga puluhan juta rupiah. Sebagai gambaran, kita ambil PV uang pangkal S1 sebesar Rp 70.000.000.
Kedua, tentukan Horizon Waktu (n), yaitu sisa tahun hingga dana tersebut dibutuhkan. Misalnya, jika anak saat ini baru lahir, maka n=6 untuk masuk SD, dan n=18 untuk masuk kuliah S1.
2. Tetapkan Laju Inflasi Pendidikan (i)
Berikutnya perhatikan laju inflasi yang berlaku. Agar dana tidak mepet atau kurang, tak ada salahnya menghitung laju inflasi secara konservatif dan lebih tinggi. Misalnya, 8% per tahun.
3. Hitung Nilai Masa Depan (FV)
Setelah PV, n, dan i ditentukan, kita menggunakan rumus Future Value berikut ini:
FV=PV×(1+i)n
Ilustrasi Kasus: Dana Kuliah S1
Mari hitung kebutuhan dana kuliah (S1) jika anak saat ini baru lahir (n=18 tahun):
PV = Rp70.000.000
i = 8% (0,08)
n = 18 Tahun
FV=Rp70.000.000×(1.08)18
FV=Rp279.799.000

Berikut Tabel Ringkasan Menghitung Biaya Pendidikan Anak
Terapkan cara menghitung kebutuhan dana pendidikan di atas untuk biaya masuk SD, SMP, SMA dan Kuliah.
| Jenjang Pendidikan | Waktu (n) | PV Uang Pangkal Saat Ini | FV (Estimasi 8%) |
|---|---|---|---|
| SD | 6 | Rp20.000.000 | Rp31,74 juta |
| SMP | 12 | Rp30.000.000 | Rp75,55 juta |
| SMA | 15 | Rp40.000.000 | Rp126,89 juta. |
| Kuliah S1 | 18 | Rp 70.000.000 | Rp 279.800.000 |
4. Hitung Setoran Bulanan yang Dibutuhkan
Setelah target FV didapatkan, langkah selanjutnya adalah menentukan setoran bulanan yang harus diinvestasikan orangtua. Namun hal ini tentu harus disesuaikan dengan kondisi finansial masing-masing keluarga.
Baca Juga : Pilih Mana: Asuransi Pendidikan atau Tabungan Biasa?
Cara Menyiasati Inflasi dan Mencapai Target FV
Kunci untuk mengalahkan inflasi pendidikan yang tinggi adalah dengan memilih instrumen investasi yang mampu menghasilkan return yang lebih besar daripada laju inflasi. Strategi yang orangtua pilih harus selaras dengan jangka waktunya masing-masing:
- Jangka Pendek (< 5 Tahun): Prioritaskan keamanan dan likuiditas untuk dana yang segera dibutuhkan (seperti masuk SD). Instrumen yang cocok meliputi Tabungan Pendidikan dan Reksa Dana Pasar Uang. Instrumen ini umumnya menghasilkan return tahunan 4–6%.
- Jangka Panjang (> 10 Tahun): Untuk target kuliah S1 yang jauh di masa depan, orangtua wajib mengejar pertumbuhan tinggi. Instrumen yang lebih potensial seperti Reksa Dana Saham, Saham, atau Obligasi dapat memberikan potensi pertumbuhan yang orangtua butuhkan bagi buah hatinya.
